MANOKWARI, Kumparanpapua.com – Gereja Kristen Pusat Papua di Indonesia (GKPPI) Hermon Sowi Gunung merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 yang dirangkaikan dengan kebaktian kebangunan rohani pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja GKPPI Hermon, Sowi Gunung, Manokwari, Papua Barat, mengusung tema “Bangunlah Kamu yang Tidur” sebagaimana tertulis dalam Efesus 5:14.
Perayaan tersebut diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin langsung oleh Pastor Michael Wilson dari PNG Christian Centre. Ibadah berlangsung dengan penuh khidmat dan menjadi momentum bagi jemaat untuk memperkuat iman, memperbarui kehidupan rohani, serta membangun semangat kebersamaan dalam pelayanan gereja.
Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama 16 tahun perjalanan pelayanan GKPPI Hermon Sowi Gunung.
Selain ibadah dan perayaan ulang tahun, kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), yang disaksikan oleh perwakilan Kementerian Agama Provinsi Papua Barat. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kebersamaan dalam mendukung pelayanan gereja serta kehidupan bermasyarakat.
Dalam sambutannya, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, Abigael, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya terhadap perjalanan pelayanan GKPPI hingga memasuki usia ke-16 tahun.
Ia menjelaskan bahwa kehidupan keagamaan di Papua Barat ditandai dengan keberagaman denominasi dan organisasi gereja. Karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dan lembaga keagamaan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis serta mendukung pembangunan daerah.
Menurutnya, Kementerian Agama memiliki peran penting dalam mengayomi dan mengakomodasi berbagai organisasi keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Papua Barat.
“Gereja dan pemerintah perlu terus membangun sinergi serta bekerja bersama-sama untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat Papua Barat,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.
Abigael juga menekankan bahwa pesan firman Tuhan yang disampaikan dalam ibadah perayaan tersebut harus menjadi bahan refleksi bagi seluruh umat Kristen, khususnya dalam memahami makna kedewasaan rohani dan penerapan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa rajin beribadah tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai pelaku firman. Oleh sebab itu, kehidupan kekristenan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan untuk melayani dan melakukan kehendak Tuhan.
Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab penting untuk menghadirkan kehidupan kekristenan yang benar-benar mencerminkan pengalaman iman kepada Yesus Kristus.
Ia juga menjelaskan bahwa gereja dapat dipahami melalui tiga dimensi, yakni gereja sebagai organisasi, gereja sebagai persekutuan umat percaya, dan gereja dalam bentuk fisik berupa bangunan tempat umat beribadah.
Pemahaman tersebut, lanjutnya, perlu menjadi landasan bagi gereja untuk menjalankan panggilan pelayanannya secara utuh, menghindari perpecahan, serta membangun kebersamaan di tengah perbedaan doktrin maupun komitmen organisasi.
“Walaupun kita memiliki doktrin dan komitmen yang berbeda, tujuan kita tetap satu, yaitu bekerja sama dan bersama-sama bekerja untuk menjalankan kehendak Tuhan bagi Provinsi Papua Barat,” ujarnya.
Ia berharap GKPPI terus bertumbuh dalam iman, mempertahankan persatuan, serta mengambil bagian dalam pelayanan yang membawa dampak positif bagi masyarakat Papua Barat.
Atas nama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat beserta jajaran, Abigael turut menyampaikan ucapan selamat atas perayaan HUT ke-16 GKPPPI Hermon Sowi Gunung. Ia berharap karya pelayanan gereja terus berkembang dan senantiasa mendapat penyertaan Tuhan.
Sementara itu, Ketua PGGP Papua Barat, Daniel Sukan, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kerja sama antargereja dalam menjawab berbagai tantangan pelayanan, khususnya dalam membangun kehidupan rohani masyarakat di Papua Barat.
Ia kembali menyoroti pesan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pastor Michael Wilson, terutama mengenai kisah empat orang yang membawa seorang lumpuh untuk berjumpa dengan Yesus.
Menurutnya, kisah tersebut memberikan gambaran tentang pentingnya kepedulian, persatuan, dan kerja sama dalam pelayanan. Empat orang yang bekerja bersama untuk membawa seseorang kepada Yesus menjadi contoh bahwa pelayanan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan dan dukungan banyak pihak.
Ia menjelaskan bahwa masih terdapat banyak orang yang membutuhkan pendampingan dan penguatan rohani. Dalam situasi tersebut, gereja memiliki tanggung jawab untuk hadir, menjangkau, serta menolong mereka agar dapat mengalami pemulihan iman dan mengenal kasih Tuhan.
Karena itu, ia mengajak seluruh gereja untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan memperkuat kebersamaan dan membangun pelayanan yang saling mendukung.
Ia juga menyampaikan dukungan terhadap GKPPI Hermon Sowi Gunung yang tengah merayakan HUT ke-16. Momentum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk memperbaruiraan antargereja, dan memperkuat kerja sama demi kepentingan umat serta masyarakat luas.
Perayaan HUT ke-16 GKPPI Hermon Sowi Gunung menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pelayanan gereja sekaligus memperbarui komitmen dalam membangun kehidupan rohani yang lebih baik.
Melalui tema “Bangunlah Kamu yang Tidur” dari Efesus 5:14, seluruh jemaat diajak untuk bangkit dari keadaan yang melemahkan kehidupan rohani, memperbarui iman, serta mewujudkan nilai-nilai firman Tuhan melalui tindakan nyata.
Semangat tersebut sejalan dengan subtema kegiatan, yakni GKPPI membenahi diri dan membangun kebersamaan antara gereja, pemerintah, dan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang diberkati.
Dengan bertambahnya usia pelayanan, GKPPI Hermon Sowi Gunung diharapkan semakin memperkuat perannya dalam membina iman jemaat, menjaga persatuan, serta berkontribusi bagi kehidupan sosial dan pembangunan di Provinsi Papua Barat.
Perayaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan gereja bukan hanya tentang kegiatan ibadah, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan kasih, kepedulian, dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari. (KP/03)















