Home / MANOKWARI / Papua Barat

Senin, 4 Mei 2026 - 17:04 WIB

‎Lonjakan Ongkos Transportasi Dorong Inflasi Papua Barat April 2026 Capai 2 Persen

MANOKWARI , Kumparanpapua.com –  Laju inflasi di Provinsi Papua Barat pada April 2026 tercatat meningkat sebesar 2,00 persen secara bulanan (month-to-month). Secara tahunan (year-on-year), angka inflasi mencapai 5,00 persen, sementara inflasi sepanjang tahun kalender berada di level 1,41 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, mengungkapkan bahwa tekanan inflasi pada periode ini paling besar berasal dari sektor transportasi.

“Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 1,30 persen,” jelasnya dalam rilis resmi di Aula BPS Papua Barat, Senin (4/5/2026).

Ia merinci, kenaikan harga pada angkutan udara, angkutan laut, serta bahan bakar jenis solar menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan di sektor tersebut. Tingginya biaya transportasi ini turut berdampak pada distribusi barang serta mobilitas masyarakat, yang akhirnya memicu kenaikan harga di berbagai komoditas.

Baca Juga :  Pembongkaran Pasar Sanggeng Akan Dilaunching

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi terhadap inflasi dengan kenaikan sebesar 1,63 persen dan andil 0,58 persen. Komoditas seperti beras, ikan layang (momar), dan tomat menjadi pemicu utama dalam kelompok ini.

Dalam skala tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan kontribusi mencapai 2,22 persen.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga (deflasi), di antaranya perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -0,14 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar -0,12 persen.

Untuk wilayah Papua Barat Daya, inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,66 persen secara bulanan dan 3,85 persen secara tahunan. Sektor transportasi kembali menjadi faktor dominan dengan andil 0,37 persen, dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara, laut, serta harga solar.

Baca Juga :  Komisi lX DPR RI Tinjau Kondisi Fasilitas dan Layanan di RSUD Manokwari

Sementara itu, secara tahunan di Papua Barat Daya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi kontributor utama inflasi dengan andil 2,22 persen, terutama dari komoditas ikan tuna dan ikan kembung.

Berdasarkan wilayah, Kabupaten Manokwari mencatat inflasi bulanan tertinggi di Papua Barat sebesar 2,00 persen. Disusul Kota Sorong 0,90 persen, Kabupaten Sorong Selatan 0,26 persen, dan Kabupaten Sorong 0,03 persen.

Secara keseluruhan, perkembangan inflasi pada April 2026 di Papua Barat dan Papua Barat Daya masih didominasi oleh kenaikan biaya transportasi serta harga bahan pangan.

“Tekanan inflasi masih bertumpu pada sektor transportasi dan kelompok makanan, minuman, serta tembakau,” tutup Merry. (KP/03)

Share :

Baca Juga

MANOKWARI

Tingkatkan Kapasitas Mahasiswa, STIE Mah-Eisa dan STIH Caritas Papua Gelar Pekan Ilmiah dan Olahraga Mahasiswa Caritas 2023

MANOKWARI

Aktualisasi Kurikulum Merdeka, Pelajar SMA Santo Paulus Datangi KPU Manokwari

MANOKWARI

Buka Raker Bupati se-Papua Barat, Gubernur Mandacan Sampaikan 7 Misi Pembangunan Daerah 

MANOKWARI

Wujudkan Prinsip Gotong Royong BPJS Kesehatan Dengan Rutin Bayar Iuran JKN

MANOKWARI

Ketua Nelayan Distrik Ransiki Imbau Masyatakat Manokwari Selatan Jaga Kamtibmas Agar Nataru Berjalan Aman

MANOKWARI

Pemkab Manokwari Matangkan Rancangan RKPD Tahun 2024 Melalui Musrenbang 

MANOKWARI

Bupati Hermus: Ubah Pola Pikir, Ciptakan Lapangan Kerja untuk Wujudkan Manokwari Emas

MANOKWARI

Gelar Syukuran Pelantikan, Hermus-Mugiyono Tegaskan Siap Melayani Masyarakat Manokwari