ACEH — Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua, Billy Mambrasar, melakukan kunjungan langsung ke kontrakan mahasiswa Papua di Aceh pasca bencana. Dalam kunjungan tersebut, Billy menemukan kondisi hunian mahasiswa yang sangat memprihatinkan dan jauh dari standar kelayakan.
Billy juga mengawal langsung penyaluran bantuan hasil donasi dari Yayasan Kitong Bisa bersama Direktur Utama Yayasan Kitong Bisa, Andi Muhammad Risquillah Rodhi Putra. Bantuan tersebut diberikan kepada mahasiswa Papua yang terdampak sebagai bagian dari upaya pemulihan pasca bencana.
Selain meninjau lokasi, Billy menyerap langsung aspirasi para mahasiswa. Salah satunya Sonny Orocomna, mahasiswa asal Papua yang tengah menempuh pendidikan di Lhokseumawe. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini bantuan yang diterima baru berasal dari Provinsi Papua Barat, sementara dari provinsi lain di wilayah Papua belum ada.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari provinsi-provinsi lain di Papua. Saat ini baru Papua Barat yang mengirimkan bantuan,” ujar Sonny.
Hal serupa juga disampaikan Boaz Tambuni, mahasiswa asal Papua lainnya. Ia berharap adanya dukungan berkelanjutan, khususnya dalam bentuk beasiswa dari pemerintah provinsi di wilayah Papua bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar daerah.
“Selain bantuan darurat, kami juga berharap ada dukungan pendidikan seperti beasiswa agar kami bisa tetap melanjutkan kuliah dengan tenang,” kata Boaz.
Menanggapi aspirasi tersebut, Billy menegaskan bahwa pemerintah provinsi di seluruh wilayah Papua harus hadir dan memberikan perhatian serius kepada mahasiswa Papua yang berkuliah di luar daerah, terutama di Aceh yang masih dalam masa pemulihan pasca bencana.
“Pemerintah provinsi harus membantu adik-adik mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di luar Papua, bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kondisi tempat tinggal mereka,” tegas Billy.
Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar menjalankan amanat Dana Otonomi Khusus (Otsus), di mana 30 persen anggaran wajib dialokasikan untuk sektor pendidikan.
“Dana Otsus sudah jelas mengamanatkan 30 persen untuk pendidikan. Ini harus dimaksimalkan, termasuk untuk membantu mahasiswa Papua yang kuliah di luar daerah, apalagi dalam situasi darurat seperti ini,” ujarnya.
Billy turut menyoroti kondisi hunian mahasiswa di Banda Aceh yang dinilainya masih belum layak dan membutuhkan penanganan segera.
“Kondisi di Banda Aceh juga masih sangat kurang layak. Ini harus menjadi perhatian bersama agar mahasiswa kita bisa tinggal dengan aman dan manusiawi,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Yayasan Kitong Bisa, Andi Muhammad Risquillah Rodhi Putra, menjelaskan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan hasil penggalangan dana publik.
“Kami menyalurkan bantuan dari hasil crowdfunding Kitong Bisa, dengan harapan dapat membantu adik-adik mahasiswa Papua di Aceh dalam proses pemulihan pasca bencana,” ungkapnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kebijakan di wilayah Papua untuk memperkuat solidaritas dan kolaborasi lintas provinsi, demi memastikan keberlanjutan pendidikan serta kesejahteraan mahasiswa Papua di tengah situasi pasca bencana. (KP/Rls)













