MANOKWARI, Kumparanpapua.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat perkembangan harga barang dan jasa pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,90 persen secara bulanan atau month-to-month (m-to-m).
Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, mengatakan secara tahunan atau *year-on-year* (y-on-y), inflasi Papua Barat mencapai 5,20 persen. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender atau *year-to-date* (y-to-d) tercatat sebesar 3,08 persen.
Menurutnya, pengukuran inflasi tersebut dilakukan berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), dengan Kabupaten Manokwari sebagai wilayah sampel pemantauan harga di Papua Barat.
Pada September 2026, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,70 persen dengan andil sebesar 0,58 persen.
Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami kenaikan harga sebesar 1,99 persen dan memberikan andil 0,27 persen terhadap inflasi bulanan.
Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi di Manokwari. Tarif angkutan udara memberikan andil sebesar 0,21 persen, disusul ikan cakalang 0,16 persen, tomat 0,12 persen, daging ayam ras 0,07 persen dan kangkung sebesar 0,06 persen.
Namun, kenaikan harga tersebut tertahan oleh turunnya harga beberapa komoditas. Ikan tuna tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, sedangkan bawang putih, daun kelor, cumi-cumi dan gula pasir masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada September tahun sebelumnya, inflasi Papua Barat tercatat sebesar 5,20 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kelompok transportasi yang mengalami inflasi hingga 20,27 persen dengan andil terbesar sebesar 2,43 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 3,42 persen dan memberikan andil sebesar 1,22 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 8,16 persen dengan andil sebesar 0,51 persen.
Untuk inflasi tahunan, tarif angkutan udara menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 1,38 persen. Selanjutnya bensin sebesar 0,69 persen, beras 0,29 persen, emas perhiasan 0,27 persen serta nasi dengan lauk sebesar 0,21 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga turut menahan laju inflasi tahunan. Tomat memberikan andil deflasi sebesar 0,16 persen, cabai rawit 0,12 persen, kangkung 0,09 persen, minyak goreng 0,06 persen dan ikan teri sebesar 0,04 persen.
Merry menyampaikan, perkembangan harga berbagai komoditas tersebut terus menjadi bagian dari pemantauan BPS melalui IHK untuk melihat dinamika inflasi di Papua Barat.
Dengan catatan tersebut, inflasi Papua Barat pada September 2026 mencapai 0,90 persen secara bulanan, 5,20 persen secara tahunan dan 3,08 persen berdasarkan tahun kalender. (KP/03)















