MANOKWARI, Kumparanpapua.com – Bakal calon Ketua Umum KONI Papua Barat periode 2026–2030, Yosias Saroy, menghadiri pembukaan Kejuaraan Bola Basket Fanindi Open Tournament 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Sanggeng, Manokwari, Senin (14/9/2026).
Pembukaan turnamen ditandai dengan pelemparan bola basket pertama ke ring oleh Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Nency Titty Lidya, yang didampingi Yosias Saroy dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manokwari.
Dalam sambutannya, Nency menyampaikan bahwa penyelenggaraan turnamen tersebut menjadi bukti semakin tumbuh dan berkembangnya minat masyarakat terhadap olahraga, khususnya bola basket, di Papua Barat.
“Semangat juang yang ditunjukkan para peserta menjadi tanda bahwa generasi muda Papua Barat memiliki potensi luar biasa untuk berprestasi, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Ia berharap Fanindi Open Tournament 2026 dapat menjadi wadah untuk melahirkan atlet-atlet unggulan yang mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa.
Nency juga mengingatkan seluruh peserta agar menjunjung tinggi sportivitas, kedisiplinan, semangat persahabatan, serta menjaga kehormatan diri dan tim selama pertandingan berlangsung.
Menurutnya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan dalam kompetisi olahraga. Setiap pertandingan harus menjadi kesempatan untuk membangun karakter, mempererat persaudaraan, dan menunjukkan kemampuan bersaing secara terhormat.
“Menang atau kalah bukan hal yang paling utama, melainkan bagaimana kita menjaga kehormatan diri sendiri, tim, dan daerah melalui sikap yang terpuji di setiap pertandingan,” katanya.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Papua Barat akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan olahraga melalui pembinaan atlet, peningkatan kualitas fasilitas, serta dukungan terhadap berbagai kegiatan positif di bidang kepemudaan dan olahraga.
“Pembangunan manusia yang sehat serta tumbuhnya sportivitas merupakan prioritas kita bersama. Olahraga memegang peranan penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut,” tuturnya.
Nency mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memajukan dunia olahraga di Papua Barat. Ia juga menyampaikan ucapan selamat bertanding kepada seluruh peserta dan berharap turnamen tersebut berlangsung sukses serta menjadi tonggak semangat baru bagi kemajuan olahraga di Papua Barat.

Di hadapan awak media, Yosias Saroy mengapresiasi inisiatif pemuda dan pemudi Fanindi yang menyelenggarakan turnamen bola basket tersebut. Ia menilai kegiatan ini merupakan langkah positif dalam mengembangkan minat dan bakat generasi muda di Manokwari.
“Saya berharap anak-anak dan adik-adik kita di semua kompleks yang ada di sekitar Kota Manokwari bisa mengambil momen positif seperti ini. Kita mengolahragakan pemuda-pemudi supaya mereka disibukkan dengan kegiatan yang positif,” ujar Yosias.
Menurutnya, kegiatan olahraga dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan energi, mengembangkan potensi, dan menghindari berbagai pergaulan negatif.
Yosias mendorong agar kegiatan serupa tidak hanya berlangsung di Fanindi, tetapi juga dapat digelar oleh pemuda-pemudi di berbagai kompleks dan wilayah di Papua Barat, khususnya Manokwari.
Ia menegaskan, pembinaan atlet membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya pemerintah. Dukungan dari masyarakat, pihak swasta, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk mengembangkan berbagai cabang olahraga.
“Anak-anak kita harus kita poles, bina, dan bantu supaya minat dan bakat mereka bisa disalurkan melalui kegiatan olahraga,” katanya.
Yosias juga menyoroti keterbatasan fasilitas olahraga di daerah. Menurutnya, Papua Barat membutuhkan sarana dan prasarana olahraga yang lebih memadai untuk mendukung proses latihan dan pengembangan atlet.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan pembangunan kompleks olahraga terpadu atau sport center yang mampu menampung berbagai cabang olahraga dalam satu kawasan.
“Kalau pemerintah daerah provinsi punya uang lebih, tanah yang sudah ada, kalau bisa bikin satu kompleks besar, sport center yang besar untuk semua cabang olahraga supaya ramai dan hidup,” ungkapnya.
Dengan tersedianya fasilitas yang memadai, Yosias berharap para atlet dapat berlatih, bertanding, dan mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan hingga mampu meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
### Panitia Dorong Prestasi dan Persatuan
Sementara itu, Ketua Panitia Fanindi Open Tournament 2026, Aleksander Mandacan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kejuaraan tersebut mengusung tema “Dari Fanindi untuk Prestasi, dari Basket untuk Persatuan”.
Turnamen yang berlangsung pada 14–22 September 2026 di GOR Sanggeng Manokwari ini bertujuan mendukung pembinaan olahraga bola basket secara berkelanjutan di Tanah Papua, khususnya Papua Barat, sekaligus mengembangkan minat dan bakat atlet serta pecinta bola basket.
Kejuaraan tersebut diikuti klub-klub bola basket dari berbagai wilayah di Tanah Papua. Panitia menyebutkan peserta terdiri atas 16 tim putra dan 8 tim putri.
Aleksander menjelaskan, Fanindi Open Tournament 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi untuk meraih kemenangan, tetapi juga bentuk nyata semangat dan komitmen anak-anak Fanindi dalam menghadirkan kegiatan positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Ia mengatakan, pihaknya ingin menjawab berbagai stigma negatif terhadap anak-anak Fanindi bukan dengan kata-kata, melainkan melalui karya, prestasi, dan kegiatan yang memberikan manfaat.
“Melalui penyelenggaraan Fanindi Open Tournament 2026, kami ingin membuktikan bahwa anak-anak Fanindi memiliki potensi, kreativitas, semangat kebersamaan, serta kemampuan untuk mengorganisir sebuah kegiatan yang positif dan bermanfaat,” ungkapnya.
Selain menjadi wadah pembinaan dan pengembangan olahraga bola basket, turnamen ini diharapkan dapat membangun karakter generasi muda melalui sportivitas, disiplin, kebersamaan, dan rasa percaya diri.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, khususnya Gubernur Papua Barat, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Aleksander berharap Fanindi dapat dikenal bukan karena stigma negatif, melainkan melalui semangat anak muda, prestasi, kebersamaan, dan kontribusi positif bagi pembangunan daerah. (KP/03)















